Apakah transportasi umum bisa jadi lebih baik?
Bengkulu merupakan sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota
Bengkulu. Dan provinsi ini terletak di
bagian barat daya Pulau
Sumatera. Bengkulu merupakan sebuah
provinsi yang masih berkembang. Saya tinggal di Kota Bengkulu tepatnya di
Penurunan. Kota Bengkulu punya beberapa angkutan umum ataupun angkutan kota.
Seperti delman, becak, angkot, ojek, dan taksi.
Angkutan umum seperti delman dan
becak sekarang susah sekali dijumpai terutama becak. Mungkin bagi kita yang
sering ke pasar, kita cukup sering melihat becak. Namun ketika kita ada di
kota, akan sangat sulit untuk melihat becak. Lain dengan delman, bagi anda yang
suka berlibur ataupun hanya sekedar jalan-jalan ke Pantai Panjang yang
merupakan salah satu tempat wisata di Kota Bengkulu, kalian pasti sering
melihat delman. Karena delman sekarang digunakan sebagai salah satu
transportasi bagi para pengunjung pantai yang ingin mengelilingi pantai. Namun
delman juga sering kita jumpai di pasar sama halnya dengan becak. Untuk tarif
becak dan delman saya sendiri kurang tau karena saya sudah lama sekali tidak
naik becak ataupun delman.
Ojek lumayan susah untuk dijumpai di
daerah tempat saya tinggal. Ojek biasanya membuat sebuah tempat yang dinamakan
“pangkalan ojek” dimana orang-orang bisa menemui ojek di sana. Ojek merupakan kendaraan umum beroda dua atau
yang kita sebut motor. Saya pribadi bisa dihitung hanya berapa kali pernah
berpergian dengan ojek. Karena dibandingkan dengan ojek saya lebih nyaman
dengan menaiki angkot. Di sini tarif ojek sesuai dengan seberapa jauh dan
seberapa dekat tujuan yang kita tempuh. Namun kita masih bisa tawar-menawar
soal tarif dengan si pengendara ojek.
Taksi muncul di Kota Bengkulu baru
dalam beberapa tahun terakhir. Jika kalian pernah ke BIM (Bengkulu Indah Mall),
kalian pasti sering melihat taksi menunggu penumpang tepat di depan pintu masuk
utama BIM. Taksi di Kota Bengkulu yang pernah hampir saya naiki tidaklah menggunakan argo. Mereka
hanya menyebutkan tarif ketika saya menyebutkan tempat tujuan saya. Contohnya
saja, sewaktu itu saya dan ibu saya ingin pulang ke rumah sehabis kami dari
BIM, namun hari sudah cukup larut sehingga susah untuk mencari angkot. Di sini
saya iseng mengajak ibu saya untuk naik taksi karena jarak yang dekat. Dan kami
pun bertanya kepada salah satu supir taksi berapa tarif yang harus kami bayar jika
kami menuju penurunan atas, dan dia menjawab seingat saya sekitar Rp 30.000,00.
Warga Kota Bengkulu mana yang mau membayar tarif sebesar itu jikalau berjalan
kaki dari bim menuju rumah saya hanya memakan waktu sekitar 20 menit.
Angkot merupakan singkatan dari
“Angkutan Umum”. Angkot tidaklah susah ditemui di Kota Bengkulu. Karena jika
kita berdiri di pinggir jalan saja walaupun tidak sedang menunggu angkot, angkot
akan menghampiri kita. Namun berbeda halnya jika kita tinggal di dalam gang.
Kita harus berjalan keluar dulu hingga ke pinggiran jalan raya, dan barulah di
sana Kita bisa menemui angkot. Angkot di Kota Bengkulu trayeknya bukan berdasarkan
angka atau huruf, tetapi berdasarkan warna. Ada angkot yang berwarna biru,
putih, hijau, merah, dan kuning. Untuk arah angkot berdasarkan warna ini pun
saya kurang tau jalur dan daerah mana saja yang mereka lewati. Namun karena
saya pernah bersekolah di SMAN 5, jadi angkot yang saya gunakan dari rumah saya
ke sekolah adalah dua angkot yaitu kuning dan hijau. Dari rumah saya naik
angkot kuning, lalu menyambung dengan angkot hijau di Suprapto, karena angkot
kuning tidak melewati daerah sawah lebar dan sekitarnya. Dan karena saya
sekarang sedang kuliah di UNIB, angkot yang saya naiki untuk menuju UNIB juga
sama dengan sewaktu saya sekolah. Namun dari rumah saya menuju UNIB bisa
memakan waktu 20 menit jika saya naik angkot.
Tarif angkot saat ini menjadi
masalah bagi saya dan warga lainnya. Karena angkot sekarang memungut tarif Rp
4000,00 untuk umum, Rp 3000,00 untuk mahasiswa, dan Rp 2000,00 untuk pelajar.
Jika saya naik angkot selama 1 hari bolak balik dari rumah saya ke kampus dan
sebaliknya, itu akan mengeluarkan biaya Rp 12.000,00 dan itu bisa untuk bensin
seliter yang cukup untuk tiga atau empat hari. Bayangkan saja jika saya naik
angkot selama 5 hari, saya sudah mengeluarkan uang sebesar Rp 60.000,00 dimana
itu sudah menghabisi setengah dari uang jajan saya.
Cerita di atas benar jika saya
setiap hari hanya bolak-balik kampus dan rumah saya. Namun berbeda halnya jika
saya bepergian diluar jam kampus dengan menggunakan angkot. Di sini saya akan
terkena biaya umum, dan si supir angkot tidak peduli apakah saya mahasiswa atau
bukan. Contohnya saja, dari rumah saya ke BIM itu sangatlah dekat. Jika saya
pergi dengan ibu saya, kami sudah mengeluarkan ongkos sebesar Rp 8.000,00 hanya
untuk ke BIM yang jaraknya sangatlah tidak seberapa dari rumah saya. Sekarang
ini banyak masyarakat mengeluh mengenai tarif angkutan kota yang satu ini.
Karena tidak peduli apakah jarak yang ditempuh dekat atau jauh tarif yang kita
bayarkan tetaplah sama. Selain tarif angkot, warga juga banyak mengeluh
dikarenakan buruknya kondisi dari transportasi umum yang satu ini. Memang tidak
semua angkot kondisi nya buruk, namun tetap saja di antara yang kondisi nya
yang buruk itu rata-rata membuat para penumpang kurang nyaman.
Sementara
itu, akademisi Universitas Bengkulu, sekaligus pengamat transportasi dan
Kebijakan Publik, Hardiansyah ST MT memprediksi Kota Bengkulu akan mengalami
kemacetan parah pada 2017. Menurut dia, pada 2012, Kota Bengkulu sebagai
ibu kota Provinsi Bengkulu sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda kemacetan.
"Pada
2012 sudah mulai terlihat masyarakat semakin banyak menggunakan kendaraan
pribadi dari pada kendaraan umum, pada 2013 kita harus menunggu dua kali lampu
merah di perempatan jalan dalam kota kalau mau melanjutkan perjalanan, dan
sekarang bisa menunggu tiga kali atau empat kali lampu merah menyala agar bisa
melewati perempatan tersebut," ucapnya. Pada 2014 dan 2015, lama waktu
tunggu perempatan jalan pun semakin bertambah, ini membuktikan masyarakat sudah
meninggalkan model transportasi umum sebagai kebutuhan sehari-hari.
Dari beberapa cerita di atas, saya
sangat berharap pemerintah Kota Bengkulu bisa membuat transportasi yang
efektif, nyaman, dan tentunya dengan tarif yang terjangkau. Di sini saya
berharap pemerintah Kota Bengkulu bisa membuat transportasi layaknya busway
yang ada di ibukota kita Jakarta. Namun alangkah baiknya jika bus ini menggunakan
sistem yang digunakan Negara gingseng yaitu Korea Selatan. Jadi di sini saya
akan menjelaskan sistem bus yang digunakan Korea dan saya sangat berharap hal
ini bisa menjadi inspirasi untuk Kota Bengkulu dan tentunya bisa diterapkan.
Jalur pejalan kaki alias pedestrian
di Korea Selatan sangatlah nyaman. Di sana hak para pejalan kaki sangatlah
dihormati. Tidak seperti di Kota Bengkulu di
mana trotoar yang seharusnya digunakan bagi pejalan kaki dan orang yang
bersepeda, malah digunakan untuk berjualan dengan membangun kios-kios kecil. Namun
di jalan raya Korea Selatan dikuasai oleh bus dan mobil. Karena bagi pejalan
kaki dan orang yang bersepeda sudah ada jalurnya sendiri. Kendaraan roda
dua di sana tidaklah populer seperti di Indonesia, kebanyakan digunakan untuk
jasa antar barang atau sistem delivery.
Nah, bus umum di sana berhentinya di
halte. Dan setiap bus memiliki nomor yang mengklasifikasikan ke arah mana
mereka “keliling”. Bus-bus ini hanya mengantarkan kalian dari satu halte bus ke
halte bus yang lain. Yang terpenting tidak ada yang namanya kondektur. Begitu
naik bus, kita masuk dari pintu depan, dan langsung membayar di alat di samping
driver, dan untuk keluar gunakan pintu belakang yang terletak di tengah body
bus. Jadi tidak seperti angkot yang hanya memiliki satu pintu sehingga berebut
ketika ada yang ingin turun dan ada yang ingin naik. Bagaimana jika tujuan kita
jauh dari halte bus? Tentu saja dengan jalan kaki. Jalan kaki merupakan hal
yang sangat biasa di Korea. Dimanapun orang turun dari halte bus, mereka pasti berjalan
kaki menuju rumah mereka atau tujuan mereka.
Yang sangat saya suka dari bis di
Korea Selatan ini adalah sistem membayarnya. Ada dua sistem pembayaran yang
berlaku setiap kita menaiki bus ini. Yang pertama dengan membayar langsung dan
yang kedua dengan menggunakan bus card. Opsi membayar langsung ini cocok bagi
para turis dan bagi orang yang malas membuat bus card. Biayanya untuk naik bus
ini rata-rata 1000KRW atau sekitar Rp 11.000,00. Dan soal kembalian uang kalian
ketika membayar bus, tidak usah khawatir. Karena setelah kalian memasukkan uang
kalian ke kotak khusus untuk membayar tunai, uang kembalian akan keluar dengan
sendirinya namun dalam bentuk koin atau yang sering kita sebut uang receh.
Namun dengan menggunakan opsi pertama ini kita akan membayar sedikit lebih
mahal dibanding dengan mereka para pengguna opsi kedua.
Nah di opsi kedua ini tentu saja
lebih efisien dalam jangka panjang. Kalian hanya perlu mengeluarkan uang untuk
membeli bus card yang harganya paling murah
4000KRW atau sekitar Rp 44.000,00. Dengan bus card ini kalian tidak
perlu membayar jika ingin transit dari satu bus ke bus yang lain. Cara penggunaanya,
kalian tempelkan bus card pada kotak ber-angka digital yang ada di dekat pintu
masuk bus, tentunya setelah kalian isi bus card kalian dengan uang yang bisa
kalian lakukan di minimarket-minimarket terdekat. Jika kalian ingin transit,
cukup tempelkan kembali bus card kalian ke “kotak digital” di dekat pintu turun
(bentuknya sama persis dengan yang di pintu masuk) saat hendak turun. Setelah
kalian tempelkan, ada jangka waktu tertentu agar kalian bisa transit gratis.
Namun lebih dari jangka waktu tersebut, kalian perlu membayar lagi. Sistem
kerja bus card ini lebih mirip pulsa, isi di minimarket terdekat, dan kartu
inilah “tiket” kalian setiap naik bus di dalam kota.
Sekian
saran saya sebagai inspirasi untuk Kota Bengkulu, saya sangat berharap
pemerintah bisa menerapkan sistem transportasi umum yang dapat membantu
menghemat pengeluaran keuangan keluarga disaat semua harga kebutuhan pokok
melonjak, termasuk bahan bakar minyak. Warga Kota Bengkulu butuh transportasi
umum yang hemat, sehingga tidak perlu menggunakan kendaraan pribadi untuk
bepergian sehari-harinya.